KARYA ILMIAH
SEJARAH PESANTREN
DI INDONESIA
Di susun dalam memenuhi tugas individu pada mata
Kuliah SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
DI SUSUN OLEH :

MUHAMAD SUPRIYADI
N I M : 05 222 960
PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBITAH DAN ADAB
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
"SULTAN MAULANA HASANUDDIN" BANTEN
2008 M
KATA PENGANTAR
Marilah kita sejenak memanjatkan puja da rasa syukur kita kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita berbagai kenikmatan yang tak terhinggga.
Salawat dan salam semoga tetap terlimpah ruwahkan ke pemimpin umat pembawah risalah nubuwah dan rahmatan lil alamin, baginda nabi besar Muhamad Saw, kepada para keluarganya, para sahabatnya dan semoga kita sekalian selaku umat dan pengikutnya, Amin.
Al- hamdulillah karya tulis ini dapat kami selesaikan walau banyak kesulitran yang kami hadapi, terutama dalam masalah ketersediaanya riteratur dan referensi yang membahas masalah yang kami susun, tapi berkat teman – teman dari beberapa kampus memberiakan pinjaman buku yang kami butuhkan, terutama teman – teman dari kampus UIN Ciputat dan UNIS Tangerang, dan kepada teman kami ucapkan terimah kasih yang sudah memberikan izin untuk mengunakan kompunter demi menyelesaikan tugas akhir kami.
Kepada dosen sejarah pendidikan islam yang selama ini selalu memberikan spot dan motivasi kepada kami, semoga bermampaat bagi kami di kemudian hari, Amin.
Tangerang, 01 Juni 2008
Muhamad supriyadi
Tidak di sangaka dan di pungkiri bahwa islam merupakan komponen yang paling penting yang turut membentuk dan mewarnai corak kehidupan masyarakt islam di Nusantara.
Keberhasilan islam dalam menembus dan mempengaruhi kehidupan masyarakat islam indonesia serta menjadikan dirinya menjadikan agama utama negara ini merupakan prestasi agama ini.[1]
Dalam hal ini Mukti Ali dalam buku sejarah pendidikan islam di Nusantara, Beliau berpendapat :
Barang kali boleh kita berkata bahwa suksesnya penyiaran islam di Indonesia, selain memengang ajaran – ajaran islam itu gampang di mengerti, juga karena kesanggupan pembawah islam tempo hari dalam memberikan konsensi terhadap adat istiadat kebiasaan yang ada dalam hidup masyarakat[2]
Dalam sejarah perjuangan mengusir penjajahan di Indonesia, pondok pesantren banyak memberi andil dalam bidang pendidikan untuk memajukan dan mencerdaskan rakyat Indonesia. Perjuangan ini dimulai oleh Pangeran Sabrang Lor (Patih Unus), Trenggono, Fatahillah (jaman kerajaan Demak) [3]
Ketika belanda menguasai Nusantara, di duga bahwa pendidikan islam masih di si oleh sistem pendidikan islam dan pengajaean masyarakat, Antoni Golvani(Fortugis) mendirikan sekolah semitari untuk anak- anak bumi putra untuk bumi putra di Maluku, yang kemudian di tutup setelah VOC menguasai dan merebut kepulauan itu dari tangan Fortugis. Dengan demikian pranata pendidikan islam masih tetap menjadi pranata pendidikan islam di Nusantara
Secara garis besar ada dua pendapat mengenai pranata pendidikan islam,yang di sebut pesantren. Pendapat pertama bahwa pondok pesantren adalah pranata pendidikan asli islamn, pesantren yang lahir dari polake hidupan tasawuf yang berkembang di wilayah islam seperti Timur Tengah dan Aprika Utara, yang di kenal dengan dengan sebutan Zawiyat
Pendapat yang kedua, yang umumnya didukung oleh para orientaris barat, seperti A.H. John.CC,Berg, menurut mereka, pondok pesantren merupakan kelanjutan dari tradisi Hindu – Budha. Perkataan santri berasal dari kata shatri, yang erat hubungannya dengan kata pesantren. Nampak nya sulit untuk menentukan pendapat mana yang lebih kuat, sebab masing – masing di dukung oleh alasan yang kuat, tetapi yang jelas kedua pendapat itu tidak membantah bahwa pesantren sudah ada sebelum bangsa Eropa tiba di Nusantara.[4]
Sistem pendidikan islam pribumi di bagi menjadi tiga jalur. Pertama, sistem pendidikan islam yang di selenggarakan di Kraton dan Petapa.sistem keraton, guru mendatangi murid yang terdiri para bangsawan dan kraton.
Kedua, sistem pendidikan islam langgar[5], pada awal perkembangannya agama islam di Indonesia, pendidikan islam di laksanakan secara informal.
Didikan dan ajaran islam di berikan dengan perbuatan berupa contoh da suru tauladan. Mereka berprilaku sopan, ramah tama, tulus ikhlas, amanah dan bkepercayaan, pengasih, pemurah, jujur, dan adil, menempati janji, serta menghormati adat istiadat yang ada, yang menyebabkan masyarakat nusantara tertarik untuk memeluk islam.[6]
Ketiga, sistem pendidikan islam pesantren. Pesantren merupakan komplek yang di namakan pondok, tempat para murid atau para santri di asramakan.[7]orang pertama kali yang mengorganisasikan pesantren di jawa adalah Raden Fatah, sebagai tindak lanjut dari usaha yang di bangun oleh gurunya, yaitu Sunan Ampel[8]
Tentang asal – usul pesatren ada yang melihatnya di mulai di negeri Makkah sendiri pada zaman Nabi Muhammad Saw, dalam bentuk penganjian yang mula- mula di adakan di suatu tempat di luar kota Makkah, tetapi kemudian di pindahkan ke Makkah di rumah pemudah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Mahmud yunus melihat pendidikan individu pesantren telah di temui dalam kota baghdad dalam masa jaya pendidikan islam di sana. Tetapi banyak yangberanggapan bahwa pesantren merupakan kelanjutan dan penyesuian dari sistem pendidikan pada masa Hindu- budha yang di temui oleh para penyebar agama islam pertama di Nusantara. Para chatrik atau para santri yang belajar terdiri dari kasta tertinggi, tinggal dan menjadi kaula- warga dari guru yang berkasta tetinggi yaitu kasta Brahmana.[9]
Istilah kuttab atau lebih kenal dengan istilah pesantren, lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat seorang kyai, yang mengajar dan mendidik para santri dengan sarana masjid untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut, serta di dukung oleh pondok sebagai tempat tinggal para santri atau para murid.[10]
Kyai merupaka tokoh sentral dalam pondok pesatren.kyai yang mendirikan pondok pesantren memberinya nama, nenberi pengajaran setelah sembayang lima waktu, memimpin sembayang jum’at dan upacara – upacara keagamaan dan juga menentukan segala – gala dalam pesantren, maka tujuan utama pesantren adalah mencetak para kyai sebagai generasi penerus agama.[11]
Dalam pertumbuhannya, pondok pesantren telah mengalami beberapa fase perkembangan. Hasil penelitian LP3S Jakarta, telah mencatatkan 5 macam pola fisik pondok pesantren, sebagai berikut.
1. Pondok pesantren yang hanya terdiri dari masjid dan rumah Kiai. Pondok pesantren seperti ini masih bersifat sederhana sekali, di mana Kiai masih mempergunakannya untuk tempat mengajar, kemudian santri hanya datang dari daerah sekitar pesantren itu sendiri.
2. Pondok pesantren selain masjid dan rumah Kiai, juga telah memiliki pondok atau asrama tempat menginap para santri yang datang dari daerah-daerah yang jauh.
3. Pola keempat ini, di samping memiliki kedua pola tersebut di atas dengan sistem weton dan sorogan, pondok pesantren ini telah menyelenggarakan sistem pendidikan formal seperti madrasah
4. Pola ini selain memiliki pola-pola tersebut di atas, juga telah memiliki tempat untuk pendidikan ketrampilan, seperti peternakan, perkebunan dan lain-lain.
5. Dalam pola ini, di samping memiliki pola keempat tersebut, juga terdapat bangunan-bangunan seperti: perpustakaan, dapur umum, ruang makan, kantor administrasi, toko, dan lain sebagainya. Pondok pesantren tersebut telah berkembang atau bisa juga disebut pondok pesantren pembangunan.
T U J U AN P E N D I D I K A N P E S A N T R E N
Pesantren yang merupakan “bapak” dari pendidikan Islam di Indonesia didirikan karena adanya tuntutan dan kebutuhan jaman. Hal ini bisa dilihat dari perjalanan sejarah, bila dirunut kembali sesungguhnya pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah Islamiyah, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam sekaligus mencetak kader-kader ulama atau da’i[12]
Tujuan terbentuknya pondok pesantren, terbagi pada dua tujuan, yaitu:
1. tujuan umum.
membimbing anak didik atau para santri untuk menjadi manusia yang berkepribadian islam yang dengan ilmu agamanya ia sanggub menjadi mubalig kepada masyarakat melalui ilmu dan amalnya
2. tujuan khusus.
Mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh Kiai yang bersangkutan, serta mengamalkannya dalam masyarakat.
Dewasa ini, kalangan pesantren (termasuk pesantren salaf) mulai menerapkan sistem madrasati. Kelas-kelas dibentuk secara berjenjang dengan tetap memakai kurikulum dan materi pelajaran dari kitab-kitab kuning, dilengkapi pelatihan ketrampilan seperti menjahit, mengetik, dan bertukang. Sistem ini kurikulumnya masih sangat umum tidak secara jelas dan terperinci. Tetapi, yang jelas semua pelajaran tersebut telah mencakup segala aspek kebutuhan santri dalam sehari semalam Kurikulum yang berkaitan dengan materi pengajian berkisar pada ilmu-ilmu agama dengan segala bidangnya seperti disebut sebelumnya. Kendati demikian, tidak berarti ilmu-ilmu keislaman yang diajarkan di pesantren-pesantren sama dan seragam. Pada umumnya, setiap pesantren mempunyai penekanan atau ciri tersendiri dalam hal-hal ilmu yang diberikan. Oleh karena itu, sulit bahkan mustahil menyamaratakan sistem dan kurikulum pesantren seperti yang pernah [13]
S I S T E M P E N G A J A R A N
Salah satu ciri tradisi pesantren yang masih kuat dipertahankan di sebagian besar pesantren adalah pengajian kitab salaf. Kitab salaf yang lebih dikenal di kalangan luar pesantren dengan sebutan kitab kuning, merupakan kitab-kitab yang disusun para sarjana Islam abad pertengahan. Kitab-kitab tersebut dalam konteks penyusunan dan awal penyebarluasannya merupakan karya intelektual yang tidak ternilai harganya, dan hanya mungkin disusun oleh ulama jenius dalam tradisi keilmuan dan kebudayaan yang tinggi pada jamannya. [14]
Isi yang disajikan kitab kuning hampir selalu terdiri dari dua komponen; pertama matan dan kedua komponen syarah. Matan adalah isi inti yang akan dikupas oleh syarah. Dalam lay out-nya, matan diletakkan di luar garis segi empat yang mengelilingi syarah. Ciri lain penjilidan kitab-kitab cetakan lama biasanya dengan sistem korasan (karasan), lembaran-lembarannya dapat dipisah-pisahkan sehingga lebih memudahkan pembaca untuk menelaahnya
Sebagai lembaga pendidika islam yang tertua, sejarahperkembangann pondok pesantren memiliki – pengajaran yang bersifat nonkalsikal, yaitu sistem pendidikan islam dengan metode pengajaran wetonan dan bendungan.
Metode wetonan
Metode yang di dalamnya seorang kyai yang membahas suatu kitab dalam waktu tertentu, sedang para santri mendengarkan dan menyimak bacaan kyai. Metode ini dapat dikatakan sebagai proses belajar mengajar kolektif
Metode sorongan
Metode yang para santri cukup pandai men”sorog”kan ( jukan ) sebuah kitab kepada kyaiuntuk di baca di hadapannya, kesalahan dalam bacaannya itu langsung di benarkan oleh kyai. Metose ini dapat di katakan dengan proses bejar mengajar individual.
Isi kurikulum yang di buat terfokus pada ilmu agama, misalnya ilmu sintasis arab, morfologi arab, hukum islam, sistem yuridisprensi islam, hadist, tafsir, theologi islam, tasawuf, tarikh islam dan retorika.
Sistem pendidikan di pesantren pun memiliki watak mandiri, bila dilihat secara keseluruhan bermula dari pengajaran sorogan, di mana seorang Kiai mengajar santrinya yang masih berjumlah sedikit secara bergilir santri per santri. Pada gilirannya murid mengulangi dan menerjemahkan kata demi kata sepersis mungkin seperti apa yang diungkapkan oleh gurunya. Sistem penerjemahan dibuat sedemikian rupa agar murid mudah mengetahui baik arti maupun fungsi kata dalam rangkaian kalimat Arab. Sistem tersebut, murid diwajibkan menguasai cara pembacaan dan terjemahan secara tepat, dan hanya boleh menerima tambahan pelajaran bila telah berulang-ulang mendalami pelajaran sebelumnya. Sistem sorogan inilah yang dianggap fase tersulit dari sistem keseluruhan pengajaran di pesantren karena di sana menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan, dan disiplin pribadi dari murid itu sendiri. Pengajian sorogan lalu diikuti pengajian weton, seorang Kiai duduk di lantai masjid atau beranda rumahnya sendiri membacakan dan menerangkan teks-teks keagamaan dengan dikerumuni oleh santri-santri yang mendengarkan dan mencatat uraiannya itu. Pengajian sorogan masih diteruskan dengan memberi wewenang kepada guru-guru untuk melaksanakannya di bilik masing-masing. Demikian pula lambat- laun pengajian weton diwakilkan kepada pengganti (badal) sehingga Kiai hanya memberikan pengajian weton dengan teks-teks utama.[15]
Dengan sisterm pondok pesantern tumbuh dan berkembang di mana – mana, yang ternyata mempunyai peranan yang sangat penting dalam usaha mempertahankan eksitensi umat islam dari serangan dan penindasan fisik dan mental dari penjajah beberapa abad lamanya. Pesantren pada mulanya berlangsung secara sederhana, ternyata cukup berperan dan banyak mewarnai perjalanan sejarah pendidikan islam di Nusantara/Indonesia, serta banyak melahirkan tokoh – tokoh terkenal.[16]
Namun demikan, tiap pesantren tidak mengajarkan kitab yang sama, melainkan kombinasi kitab yang berbeda-beda sehingga banyak Kiai terkenal dengan spesialisasi kitab tertentu. Hal ini karena kurikulum pesantren tidak distandarisasi. Dari perkembangan seperti itulah bahwa pesantren merupakan lembaga khusus dengan pengajaran kitab-kitab kuning sebagai tempat pendidikan yang mengajarkan, mengembangkan dan menyebarkan ilmu agama Islam dengan sistem pengajaran yang dilakukan langsung dari bahasa Arab serta berdasarkan pembacaan kitab-kitab klasik karya ulama besar
Pesantren merupakan ‘bapak’ dari pendidikan Islam di Indonesia yang didirikan karena tuntutan dan kebutuhan jaman. Pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah Islamiah, yakni menyebarluaskan dan mengembangkan ajaran Islam sekaligus mencetak kader-kader ulama dan dai. Sejarah pondok pesantren merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah pertumbuhan masyarakat Indonesia. Hal itu dapat dibuktikan bahwa sejak kerajaan Islam pertama di Aceh dalam abad-abad pertama Hijriah, kemudian kurun walisanga sampai permulaan abad keduapuluh banyak wali dan ulama yang menjadi cikal bakal desa baru. Dalam sejarah perjuangan mengusir penjajahan di Indonesia, pondok pesantren banyak memberi andil dalam bidang pendidikan untuk memajukan dan mencerdaskan rakyat Indonesia. Perjuangan ini dimulai oleh Pangeran Sabrang Lor, Trenggono, Fatahillah pada jaman kerajaan Demak, diteruskan masa Cik Ditiro, Imam Bonjol, Hasanudin, Pangeran Antasari, Pangeran Diponegoro, dan lain-lain sampai pada masa revolusi fisik tahun 1945. [17]
K A R A K T E R I S T I K P O N D O K P E S A N T R E N
Ada tiga karakteristik sebagai basis utama kultur pesantren di antaranya sebagai berikut.
Ø Tradisionalisme
Sebagaimana disinggung di atas bahwa lembaga pendidikan pada umumnya adalah milik atau paling tidak didukung masyarakat tertentu yang cenderung mempertahankan tradisi-tradisi masa lalu. Sementara itu, dengan tetap menyadari kemungkinan terjadinya kontroversial dalam segi tertentu, kelompok yang dimaksud adalah Nahdhatul Ulama (NU) dan Persatuan Tarbiyah Islam.10
Menurut Zamakhsyari Dhofier, pesantren salaf/tradisional adalah lembaga pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab klasik sebagai inti pendidikan. Sistem madrasah ditetapkan hanya untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum.11
Tradisionalisme dalam konteks pesantren harus dipahami sebagai upaya mencontoh tauladan yang dilakukan para ulama shalaf yang masih murni dalam menjalankan ajaran Islam agar terhindar dari bid’ah, khurafat, takhayul, serta klenik. Hal ini kemudian lebih dikenal dengan gerakan salaf, yaitu gerakan dari orang-orang terdahulu yang ingin kembali kepada al-Qur’an dan Hadis.12
Gerakan salaf ini dalam perjalanan sejarahnya telah memberikan sumbangan besar terhadap modernisasi Islam. Gerakan salaf secara sadar menolak anggapan bahwa Islam tidak cocok. Mereka mencari tahu faktor yang menyebabkan ketidakcocokan tersebut, yakni karena taqlid.
Ø Pertahanan Budaya (Cultural Resistance)
Mempertahankan budaya dan tetap bersandar pada ajaran dasar Islam adalah budaya pesantren yang sudah berkembang berabad-abad. Sikap ini tidak lain merupakan konsekuensi logis dari ling. Ide cultural resistance juga mewarnai kehidupan intelektual dunia pesantren. Subjek yang diajarkan di lembaga ini melalui hidayah dan berkah seorang Kiai sebagai guru utama atau irsyadu ustadzin adalah kitab klasik atau kitab kuning, diolah dan ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikut, yang sekaligus menunjukkan keampuhan kepemimpinan Kiai. Isi kitab kuning menawarkan kesinambungan tradisi yang benar.
Karena konsep cultural resistance pula, dunia pesantren selalu tegar menghadapi hegemoni dunia luar. Sejarah menunjukkan bahwa saat penjajah semakin menindas, saat itu pula perlawanan kaum santri semakin keras. Penolakan Sultan Agung dan Diponegoro terhadap kecongkakan Belanda, ketegaran Kiai-Kiai pada masa penjajahan, serta kehati-hatian pemimpin Islam berlatar-belakang
pesantren dalam menyikapi kebijakan penguasa yang dirasakan tidak bijaksana atau sistem yang established sehingga menempatkan mereka sebagai kelompok ‘oposan’ adalah bentuk-bentuk cultural resistance dari dulu hingga sekarang.13
Ø Pendidikan Keagamaan
Pendidikan pesantren didasari, digerakkan, dan diarahkan oleh nilai-nilai kehidupan yang bersumber pada ajaran Islam. Ajaran dasar ini berkelindan dengan struktur sosial atau realitas sosial yang digumuli dalam hidup sehari-hari.
Dengan demikian, pendidikan pesantren didasarkan atas dialog yang terus-menerus antara kepercayaan terhadap ajaran dasar agama yang diyakini memiliki nilai kebenaran mutlak dan realitas sosial yang memiliki nilai kebenaran relatif[18]
Pendahuluan
Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah “tempat belajar para santri”, sedangkan pondok berarti “rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu”. Di samping itu, “pondok” mungkin juga berasal dari bahasa Arab “fanduk” yang berarti “hotel atau asrama”. Ada beberapa istilah yang ditemukan dan sering digunakan untuk menunjuk jenis pendidikan Islam tradisional khas Indonesia atau yang lebih terkenal dengan sebutan pesantren. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura, umumnya dipergunakan istilah pesantren atau pondok,1 di Aceh dikenal dengan istilah dayah atau rangkung atau meunasah, sedangkan di Minangkabau disebut surau.
Adapun pengertian secara terminologi, dapat dikemukakan beberapa pendapat yang mengarah pada definisi pesantren. Abdurrahman Wahid, memaknai pesantren secara teknis, a place where santri (student) live, sedangkan Abdurrahman Mas’oed menulis, the word pesantren stems from “santri” which means one who seeks Islamic knowledge. Usually the word pesantren refers to a place where the santri devotes most of his or her time to live in and acquire knowledge. Kata pesantren berasal dari “santri” yang berarti orang yang mencari pengetahuan Islam, yang pada umumnya kata pesantren
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang penting sebagai acuan untuk menentukan isi pengajaran, mengarahkan proses mekanisme pendidikan, tolok-ukur keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan. Kurikulum pesantren lebih menekankan pada pelajaran agama dan bersumber pada kitab-kitab klasik. Kurikulum pesantren berdasarkan tingkat kemudahan dan kompleksitas ilmu atau masalah yang dibahas dalam kitab. Dengan demikian, ada tingkat awal, menengah dan tingkat lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
1. Hasbullah. Drs, Sejarah Pendidikan islam di Indonesia, grapindo persada, jakarta, 1999.
2. Ali Hasan M.AS, Ali Mukti,kapita selekta pendidikan islam, CV. Pedoman Ilmu, jakarta. 2002
3. mahmud yunus, sejarah pendidikan islam di indonesia, mutiata,jakarta
4. M.Said, Junimar Affan, mendidik dari zaman ke zaman, bandung, 1987
5. Rahman Wahid.KH, Paradigma pengembangan masyarakat melalui pesantren, 1998
6. http://ibda.files.wordpress.com/2008/04/1-sejarah-dan-perkembangan-pesantren.pdf
[1]Hasbullah. Drs, Sejarah Pendidikan islam di Indonesia, grapindo persada, jakarta, 1999 hal. 1
[2] Sejarah pendidikan islamdi Indonesia.Hal. 18
[3] http://ibda.files.wordpress.com/2008/04/1-sejarah-dan-perkembangan-pesantren.pdf
[4] Ali Hasan M.AS, Ali Mukti,kapita selekta pendidikan islam, CV. Pedoman Ilmu, jakarta. 2002, Hal.1
[5] Sejarah pendidikan islam di indonesia. Hal.2
[8] Kapita selekta.Hal.2
[9] M.Said, Junimar Affan, mendidik dari zaman ke zaman, bandung, 1987, cet.-5, Hal.87
[10] Sejarah pendidikan islam. Hal.24
[11] Abdul Rahman Wahid.KH, Paradigma pengembangan masyarakat melalui pesantren, 1998 Hal.3
[12] http://ibda.files.wordpress.com/2008/04/1-sejarah-dan-perkembangan-pesantren.pdf
[13] ibit
[14] http://ibda.files.wordpress.com/2008/04/1-sejarah-dan-perkembangan-pesantren.pdf
[15] http://ibda.files.wordpress.com/2008/04/1-sejarah-dan-perkembangan-pesantren.pdf
[16] Sejarah pendidikan islam, Hal.26-27
[17] http://ibda.files.wordpress.com/2008/04/1-sejarah-dan-perkembangan-pesantren.pdf

0 komentar:
Posting Komentar